Kamis, 19 Desember 2013

pesikologi pendidikan tentang emosi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pandangan umum tentang emosi adalah ketika seseorang mengalami suatu kejadian di lingkungannya dan kejadian tersebutlah yang membentuk emosi dalam diri kita. Awalnya dari lingkungan lalu tubuh bereaksi sebagai respon, berikutnya perubahan fisiologis ini memunculkan emosi. Bukan sebaliknya, emosi memunculkan reaksi, emosi yang berbeda diasosiasikan dengan keadaan identik psikofisiologis yang terjadi dalam tubuh, organ dalam tubuh tidaklah sangat sensitif. Karena tidak selalu bisa memilah informasi yang berbeda ketika seseorang butuh pengalaman untuk mendapatkan suatu emosi, contohnya rasa takut dan tegang. Perkembangan perubahan dalam tubuh diasosiasikan dengan pembentukan emosi, jika tidak terjadi stimulus normal yang terbangkitkan, individu takkan mengalami suatu emosi yang mekorespondasi reaksi fisik. Terkait dengan uraian tersebut dalam kalah ini akan dibahas mengenai emosi khususnya tentang bentuk reaksi emosi dan perkembangan emosi. B. Maksud dan Tujuan Makalah ini di buat dengan maksud membantu para mahasiswa/mahasiswi dalam memahami emosi peserta didiknya dan agar mengetahui dan memahami tentang emosi. Dan bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi. C. Rumusan Masalah 1. Apa definisi emosi? 2. Sebutkan fungsi emosi? 3. Sebutkan jenis dan pengelompokan emosi? 4. Apa fisiologi emosi? 5. Sebutkan hubungan emosi dengan belajar? 6. Apa saja kecerdasan emosi? D. Batasan Masalah 1. Apa fisiologi emosi? 2. Sebutkan hubungan emosi dengan belajar? 3. Apa saja kecerdasan emosi? BAB II PEMBAHASAN A. Fisiologis Emosi Hidup tanpa emosi akan terasa membosankan. Pernahkah Anda membayangkan jika dalam kehidupan tidak ada kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, harapan, kebencian, kecemburuan, maka segala sesuatu dalam hidup akan tampak datar dan terasa hambar. Tidak akan ada banyak variasi gerakan, dan kita pun akan mendapat kesulitan menginterpretasikan perilaku orang lain. Tentu saja hal itu akan membawa akibat terhadap interaksi sosial. Untung saja manusia mempunyai keadaan emosi dan berusaha mempertahankan keadaan yang menyenangkan serta menghindari atau menghentikan keadaan yang tidak menyenangkan. Keadaan emosi itu kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang kemudian dapat diamati oleh orang lain. Dalam konteks psikologi, kita perlu membedakan feeling (perasaan) dari emosi yang dalam penggunaan bahasa sehari-hari sering dicampuradukkan. Keadaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan yang sering mengiringi banyak kegiatan kita adalah keadaan perasaan yang ringan. Misalnya minum es jus di hari yang panas sangat menyenangkan, sebaliknya menunggu pesanan makanan selama 1 jam atau lebih merupakan hal yang tidak menyenangkan. Hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang kita bicarakan ini kita sebut warna afek. Keadaan afektif yang ringan disebut feelings (perasaan). Istilah emosi sendiri menunjukkan keadaan terangsang dan lebih jelas, luas, seperti misalnya kata-kata kesedihan, kemarahan, teror. Menurut, Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam lingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt. Kebanyakan psikolog mengelompokkan emosi ke dalam keadaan yang menyenangkan (pleasant) dan yang tidak menyenangkan (unpleasant). Keadaan yang menyenangkan, misalnya kebahagiaan, cinta, kegembiraan dan keadaan yang tidak menyenangkan seperti kesedihan, kemarahan. Klasifikasi ini cenderung mengatakan pentingnya kesenangan dan ketidaksenangan, penerimaan dan penolakan, pendekatan dan penghindaran sebagai dasar emosi. Selain klasifikasi keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan, ada juga istilah emosional yang menyatakan intensitas pengalaman. Perbedaan dalam intensitas ditunjukkan oleh kata-kata yang berpasangan seperti : anger-range, fear-horror, pain-agony, sadness-grief. Pada saat kita berada dalam keadaan emosi maka akan terjadi perubahan pada tubuh/fisiologis. Indikatornya antara lain: 1. Galvanic Skin Response. Pada waktu emosi terangsang, ada perubahan listrik pada kulit yang dapat dilihat. Elektrode ditempelkan pada kulit (misal telapak tangan) yang dihubungkan dengan galvanometer. GSR ini merupakan indikator peka dari perubahan dalam keadaan emosional. 2. Peredaran Darah Terjadi perubahan tekanan darah dan perubahan dalam distribusi darah pada saat emosi. Misalnya : muka merah karena marah. Terjadi perubahan karena pembuluh darah di kulit membesar dan ditemukan lebih banyak darah di permukaan kulit. Sebaliknya terjadi pada waktu seorang berada dalam kondisi ketakutan. 3. Denyut Jantung 4. Nafas 5. Respon pupil mata. Pupil membesar dalam keadaan marah atau sakit atau dalam keadaan emosional secara umum. 6. Sekresi air liur muncul pada waktu perangsangan emosional, misalnya. 7. Respon pilomotor, merupakan nama teknis untuk goose pimples yang muncul bila bulu berdiri dalam keadaan takut. 8. Gerakan usus. Misalnya rangsangan emosional dapat mengakibatkan mual atau diare. 9. Ketegangan otot dan tremor. 10. Komposisi darah, berhubungan dengan kelenjar-kelenjar endokrin yang aktif selama keadaan emosional dan memasukkan hormon-hormon dalam aliran darah. Analisa kimia mengungkapkan ada perubahan dalam komposisi darah, misalnya perubahan dalam gula darah, dan sebagainya. Sepuluh indikator di atas menunjukkan betapa luas dan besarnya pengaruh terhadap tubuh dari rangsangan secara emosional. Mekanisme fisiologis dalam emosi. Perubahan-perubahan pada tubuh yang terjadi selama emosi saling berhubungan yang dipengaruhi susunan saraf dan kelenjar endokrin. WB Cannon, Woodworth & Schlossberg, menyatakan bahwa ada kelompok besar sinaps yang menonjol dalam keadaan marah menyiapkan organisme untuk menghadapi keadaan-keadaan gawat dan mempertahankannya terhadap penyerangan dan luka. Suatu contoh yang sederhana menggambarkan apa yang terjadi selama emosi ketika seekor kucing yang sedang makan dengan tenang, tiba-tiba didatangi anjing yang menyalak. Kita dapat melihat adanya perubahan fisiologis yang terjadi, yaitu : 1) gerakan pencernaan dalam lambung berhenti; 2) naiknya tekanan darah; 3) meningginya detak jantung; 4) adrenalin masuk aliran darah. Masing-masing reaksi itu diatur bagian simpatetik dari susunan saraf otonom. Akibat dari pengeluaran adrenalin adalah: 1) meningginya tekanan darah; 2) menaikkan gula dalam darah sehingga memungkinkan beraksi; 3) pembekuan darah lebih cepat terjadi. Akhirnya terlihat kucing itu menaikkan punggung dan berdesis, bulu berdiri dan siap tempur. Tambahan gula dalam darah memberinya kekuatan dan menambah ketahanan. Jika luka, darah akan membeku lebih cepat. Jika kucing digigit, kemungkinan anjing hanya mendapat bulu saja. Cannon menyebut respons fisik yang menyiapkan organisme untuk beraksi sebagai emergency reactions. Karena itu ia mengartikan perangsangan emosional yang kuat sebagai metoda untuk mempersiapkan organisme menghadapi situasi gawat. Kebanyakan reaksi yang disebutkan tadi juga ada pada manusia. Divisi simpatetik dan para simpatetik sering mempunyai hubungan saraf ke organ yang sama tapi memberi pengaruh yang bertentangan. Perangsangan terhadap sistem simpatetik mempercepat detak jantung. Perangsangan terhadap sistem para simpatetik memperlambat detak jantung. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem simpatetik aktif dalam keadaan emosional. Kesimpulan ini ada benarnya, misalnya rasa enak dan aroma enak merangsang sekresi lambung yang berada di bawah kendali para-simpatetik. Tetapi sistem para-simpatetik juga berperan dalam keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan maupun keadaan terangsang. Susunan saraf pusat juga aktif dalam emosi. Karena adanya kendali atas otot-otot wajah maka dapat terjadi kerut-kerut di wajah seperti frowning & grimacing, gemetar, ketegangan otot, dan sebagainya. Jadi susunan saraf pusat dan sistem otonomi bekerja sama dalam pernyataan emosional seperti tertawa, menangis, perangsangan seksual. Air mata pada waktu menangis dan tertawa dikontrol sistem otonomi dan otot-otot wajah serta suara dikendalikan susunan saraf pusat sedangkan perubahan dalam pernafasan dikendalikan kedua sistem. B. Hubungan Emosi dengan Belajar Selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Namun, menurut hasil penelitian terbaru dibidang psikologi membuktikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang, tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan landasan bagi prestasi belajar siswa. Kecerdasan emosional itu meliputi kemampuan mengendalian diri sendiri, memiliki semangat dan ketekunan, memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengatur suasana hati, kemampuan empati. Orang yang dapat mengendalikan emosi secara cepat dan memperhatikan serta memikirkan perasaan orang lain dapat disebut sebagai orang yang cerdas emosional. Semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin tinggi dalam menentukan prestasi belajar siswa. Contoh penelitian: ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional siswa kelas II MTsN Tembelang Jombang, dan untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas II MTsN Tembelang Jombang, serta untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas II MTsN Tembelang Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa MTsN Tembelang Jombang. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampel. Dan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment, yang sebelumnya dilakukan dengan pencarian rata-rata dan standar deviasi serta kategorisasi dari masing-masing variabel tingkat kecerdasan emosional dan tingkat prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa tingkat kecerdasan emosional siswa berada pada tingkat sedang dan tinggi, namun sebagian besar tingkat kecerdasan emosional siswa adalah rendah. Sedangkan untuk tingkat prestasi siswa memiliki tingkat prestasi dengan nilai ratarata di atas 65 dengan kategori sedang dan tinggi, namun secara umum atau sebagian besar prestasi siswa adalah rendah. Hasil perhitungan korelasi dengan menggunakan product moment didapatkan hasil 0,735, artinya kedua variabel tingkat kecerdasan emosional dan tingkat prestasi belajar siswa memiliki hubungan yang erat. C. Kecerdasan Emosi Pengertian cerdas sangat beragam. Ada IQ yaitu cerdas inteligensia. Ada SQ, cerdas spiritual dan EQ (Emotional Intelligence), kecerdasan emosi. Teori tentang kecerdasan emosi dikembangkan pertama kali tahun 1980-an oleh beberapa psikolog dari Amerika Serikat: Howard Gardner, Peter Salovey dan John Mayer dan menjadi terkenal saat Daniel Goleman, psikolog dari Harvard University, menulis buku Emotional Intelligence tahun 1995. Kecerdasan emosional dapat dikembangkan sejak usia dini. Konon anak yang punya EQ tinggi memiliki kepribadian yang disukai, lebih mudah bergaul dan lebih sehat jasmaninya berkat kemampuannya mengontrol emosi. 5 Wilayah Kecerdasan Emosi (Menurut Goleman) 1. Kemampuan Mengenali Emosi Diri: anak kenal perasaannya sendiri sewaktu emosi itu muncul. Seseorang yang mampu mengenali emosinya akan memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan yang muncul seperti senang, bahagia, sedih, marah, benci dan sebagainya. 2. Kemampuan Mengelola Emosi: anak mampu mengendalikan perasaannya sehingga emosinya tidak meledak-ledak yang akibatnya memengaruhi perilakunya secara salah. Meski sedang marah, orang yang mampu mengelola emosinya akan mengendalikan kemarahannya dengan baik, tidak teriak-teriak atau bicara kasar, misalnya. 3. Kemampuan Memotivasi Diri: anak dapat memberikan semangat pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Ia punya harapan dan optimisme yang tinggi sehingga memiliki semangat untuk melakukan suatu aktivitas. 4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain: balita bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain merasa senang dan dimengerti perasaannya. Kemampuan ini sering juga disebut sebagai kemampuan berempati. Orang yang memiliki empati cenderung disukai orang lain. 5. Kemampuan Membina Hubungan: anak sanggup mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung punya banyak teman, pandai bergaul dan populer. BAB III PENUTUP Kesimpulan Menurut, Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam leingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt. Selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Namun, menurut hasil penelitian terbaru dibidang psikologi membuktikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang, tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan landasan bagi prestasi belajar siswa. 5 kecerdasan emosional yaitu: 1. Kemampuan mengenali emosi diri 2. Kemampuan mengelola emosi 3. Kemampuan memotivasi diri 4. Kemampuan mengenali emosi orang lain 5. Kemampuan membinahubungan Saran Kepada rekan-rekan mahasiswa/mahasiswi disarankan untuk mencari lebih banyak lagi informasi dan pengetahuan mengenai Emosi untuk menambah wawasan dalam kaitannya dengan Psikologi Pendidikan agar kelak bermanfaat dalam memberikan asuhan kepada anak didik kita di sekolah. DAFTAR PUSTAKA http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/5.kecerdasan.emosional/001/007/846/1/1 diunduh tgl 27 November 2013 jam 13.44 http://winanti5599.blog.esaunggul.ac.id/2012/03/14/fisiologis-emosi/ diunduh tgl 27 November 2013 jam 13.24 http://lib.uin-malang.ac.id/?mod=th_detail&id=04410108 diunduh tgl 27 November 2013 jam 13.32 http://hilmn.blogspot.com/2013/05/psikologi-emosi.html diunduh tgl 27 november 2013 jam 13.21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar